Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

[PAI] PERANAN BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PERUBAHAN AKHLAK ANAK TPA AL-HIDAYAH DESA SUMBERJO KECAMATAN WAY JEPARA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Penegasan Judul
Judul merupakan hal yang sangat penting dalam suatu karya ilmiah, sebab bahan kajian selanjutnya ada di dalam judul itu sendiri. Untuk itu, agar pembahasan lebih lanjut dapat terarah dan terhindar dari perbedaan persepsi, dirasa perlu memberikan pengertian terhadap judul skripsi ini, yaitu “PERANAN BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PERUBAHAN AKHLAK ANAK TPA AL-HIDAYAH DESA SUMBERJO KECAMATAN WAY JEPARA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR” sebagai berikut:

  1. Peranan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “Peran adalah seperangkat tingkat yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat.”[1] Sedangkan “Peranan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan.”[2]
Jadi peranan disini adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan oleh orang tua.

2.      Bimbingan
Bimbingan adalah “Memberi penjelasan lebih dulu (sesuatu yang akan dirundingkan dsb)” [3]. Bimbingan yang dimaksud dalam skripsi ini adalah petunjuk (penjelasan) dan tuntutan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak agar putra-putrinya tersebut memiliki akhlak dan kepribadian yang baik.

3.   Orang Tua
Menurut Syaiful Bahari Djamarah “Orang tua adalah pendidik dalam keluarga. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka. Dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Oleh karena itu, bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga”. [4]
Dalam penelitian ini orang tua adalah orang yang memberikan bimbingan terhadap nilai-nilai kepada para anak TPA AL-HIDAYAH di Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur.

4.   Perubahan Akhlak
Perubahan berasal dari kata ubah yang berarti menjadi lain (berbeda) dari semula. Jadi perubahan dapat diartikan suatu proses perpindahan dari sesuatu yang baik menjadi tidak baik atau sebaliknya.
Sedangkan Akhlak menurut Al-Ghazali dalam bukunya yang ditulis Drs. H. Abuddin Nata, MA dijelaskan bahwa akhlak adalah “sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”. [5]
Dari pendapat di atas terlihat jelas bahwa akhlak adalah sifat pembawaan pada seorang anak yang memiliki kecenderungan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan sehari-hari.
Jadi yang dimaksud dengan perubahan akhlak disini adalah proses perpindahan sifat pembawaan seorang anak dari yang biasanya menjadi lebih baik didalam kehidupan sehari-harinya.

5.   Anak TPA
Dalam pandangan Islam, anak pada hakikatnya adalah sumber kebahagiaan keluarga, karunia Allah SWT, penerus generasi keturunan,pelestari pahala orang tua, amanat Allah dan makhluk independen, yang memerlukan bimbingan dan pengarahan dari orang tuanya.[6]
Pelaksanaan pendidikan agama bagi anak dapat dilaksanakan di lembaga pendidikan formal, lembaga pendidikan non formal dan lembaga pendidikan informal (UU.RI No. 20 Th. 2003 Bab VI tentang Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan, Pasal 13 ayat 1).[7] Pendidikan formal yaitu pendidikan yang dilaksanakan disekolah dan pendidikan non formal yaitu pendidikan yang dilaksanakan diluar sekolah, sedangkan pendidikan informal yaitu pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan keluarga.
Pendidikan agama bagi anak, dalam arti pembinaan kepribadian sebenarnya dimulai sejak  anak lahir, bahkan ketika masih dalam kandungan. Keadaan orang tua, ketika anak dalam kandungan mempengaruhi jiwa anak yang akan lahir nantinya. Oleh karena itu, keadaan orang tua dalam kehidupan sehari-hari mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembinaan akhlak anak.
Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) : “Lembaga Pendidikan dan pengajaran Al Qur'an untuk anak usia sekolah dasar (7-12 tahun)".[8]
Jadi anak TPA yang dimaksudkan disini adalah anak yang berusia 7 – 12 tahun yang menempuh pendidikan agama di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Al-Hidayah Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara.

Berdasarkan penjelasan judul di atas maka yang di maksud dengan judul ini adalah bahwa penulis ingin meneliti peranan bimbingan orang tua terhadap perubahan akhlak anak-anaknya yang menempuh pendidikan di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Al-Hidayah Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur.

B.     Alasan Memilih Judul
Adapun alasan memilih judul dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Orang tua adalah pemantau arah pada anaknya, bahkan anak adalah obyek yang akan dijadikan apa oleh orang tuanya, baik buruknya akhlak anak tergantung pada orang tuanya.
2.      Anak merupakan generasi awal penerus yang diharapkan dapat meneruskan perjuangan dan pembangunan sebuah daerah, bahkan bangsa dan Negara. Oleh karena itu para anak perlu dibimbing dan diarahkan.
3.      Dengan mengadakan penelitian ini, diharapkan akan menambah pengetahuan bagi penulis khususnya dan orang tua pada umumnya.

C.    Latar Belakang Masalah
Agama islam sangat erat sekali kaitannya dengan pendidikan pada umumnya. Pendidikan islam bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan manusia terhadap Allah SWT. Tujuan pendidikan islam yang sejalan dengan misi islam yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlakul karimah. Adapun tujuan utama dari pendidikan islam adalah pembentukan akhlak yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, jiwa yang bersih, kemauan yang keras, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi. Tujuan pendidikan islam adalah pembentukan akhlak yang dilakukan melalui proses pembinaan secara bertahap.
Akhlak merupakan salah satu masalah pokok yang terkandung dalam ajaran Islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
Artinya : “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk memperbaiki akhlak (HR. Ahmad dan Baihaki)”. [9]

Berdasarkan pada hadits tersebut diatas jelaslah bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak, maka seharusnya umat Islam dapat mengikuti akhlak Rasulullah SAW.
Menurut Ibrahim Anis mengatakan akhlak ialah “ilmu yang obyeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia dapat disifatkan dengan baik dan buruknya.”[10]
Ahmad Amin menambahkan bahwa “akhlak merupakan ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan setiap manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju setiap manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.”[11]
Dari pendapat diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa akhlak adalah sifat yang ada dalam jiwa seseorang yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan dapat disifati baik buruknya untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya.
Faktor kemulian akhlak dalam pendidikan islam dinilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang menurut pandangan islam berfungsi menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera di dunia dan di akhirat.
Pendidikan agama yang baik dalam keluarga adalah salah satu contoh perhatian orang tua terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang bermoral.
Keluarga adalah suatu institusi yang terbentuk karena suatu ikatan perkawinan antara sepasang suami istri untuk hidup bersama seia sekata, seiring sejalan dalam membina mahligai rumah tangga untuk mencapai keluarga sakinah dalam lindungan dan ridha Allah SWT.
“Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang bersifat informal yaitu pendidikan yang tidak mempunyai program yang jelas dan resmi, selain itu keluarga juga merupakan lembaga yang bersifat kodrati, karena terdapatnya hubungan darah antara pendidik dan anak didiknya.[12] Di dalamnya selain ada ayah dan ibu juga ada anak menjadi tanggung jawab orang tua.
Menurut Zuhairini dkk bahwa “Pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama, tempat anak didik pertama-tama menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tua atau anggota keluarga lainnya.”[13] Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia yang masih muda dan selalu membimbing kearah akhlak yang baik, karena pada usia ini anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikan (orang tua dan anggota lain). Akhlak anak akan baik jika selalu dibimbing oleh orang tua.
Bimbingan penyuluhan adalah bantuan yang diberikan kepada seorang agar perkembangan potensi-potensi yang dimiliki, mengenali diri sendiri, mengatasi persoalan-persoalan sehingga dapat menentukan sendiri jalan hidupnya secara tanggung jawab tanpa tergantung pada orang lain.
Berdasarkan penjelasan di atas, indikator bimbingan orang tua dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
1.      Bimbingan orang tua terhadap anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Bimbingan orang tua untuk mengamalkan akhlak yang baik didalam membaca Al Qur’an.

Manusia dalam menuju kedewasaannya memerlukan bermacam-macam proses yang diperankan oleh bapak ibu dalam lingkungan keluarga. Kesadaran orang tua akan peran dan tanggung jawabnya selaku pendidik pertama dan utama dalam keluarga sangat diperlukan. Tanggung jawab orang tua terhadap anak tampil dalam bentuk yang bermacam-macam. Konteksnya dengan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan, maka orang tua adalah pendidikan pertama dan utama dalam keluarga. Bagi anak orang tua adalah model yang harus ditiru dan diteladani. Sebagai model seharusnya orang tua memberikan contoh yang terbaik bagi anak dalam keluarga. Sikap dan perilaku orang tua harus mencerminkan akhlak yang mulia. Oleh karena itu islam mengajarkan kepada orang tua agar selalu mengajarkan sesuatu yang baik-baik saja kepada anak mereka. Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim yang terdapat dalam buku 60 Kiat Menjadi Anak Milenium, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Akhlakul karimah ada sepuluh macam, yaitu jujur dalam berbicara, pemberani, selalu memberi yang meminta, selalu membalas perbuatan baik, bersilaturrahmi, memelihara hak-hak tetangga dan teman, menghormati tamu, dan yang paling utama di antaranya semuanya adalah malu. [14]

Orang tua juga mempunyai kewajiban terhadap anak selain mendidik juga memberikan adab (akhlak). Hak anak terhadap ayahnya adalah ayahnya memberikan nama yang baik dan membina adab. Oleh sebab itu perlunya orang tua memberikan bimbingan kepada anaknya tentang akhlak-akhlak yang baik.
Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) adalah salah satu lembaga Pendidikan non Formal yang dikhususkan untuk anak-anak dan remaja Islam yang diharapkan mampu menampung hasrat dan keperluan Agama Islam dalam mengajarkan Al-Qur'an dan akhlakul karimah kepada anak-anak dan generasi penerus Islam dengan tanpa beban yang menitik beratkan kepada mereka, sebab materi pelajaran Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di format sedemikian rupa sehingga tampak mudah dan mempunyai daya tarik sendiri bagi anak-anak.
Dasar didirikan sebuah lembaga pendidikan TPA adalah firman Allah SWT pada Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6 :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% öä3|¡àÿRr& öä3Î=÷dr&ur #Y$tR
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim : 6)”.[15]

Sebagai realisasi menjaga diri dan keluarga dari api neraka, tidak ada lain adalah melalui pendidikan dan pengajaran Al-Qur'an sedini mungkin.
Berdasarkan firman Allah SWT diatas, ulama Ibnu Khaldun menegaskan akan pentingnya mengajarkan dan menghafalkan Al-Qur'an kepada anak-anak. la menjelaskan bahwa pengajaran Al-Qur'an itu merupakan pondasi pengajaran bagi seluruh kurikulum, sebab Al-Qur'an merupakan salah satu "Syi'ar Ad-din" yang menguatkan aqidah dan mengkokohkan keimanan.[16]
Dari maqalah Ibnu Khaldun dapat disimpulkan bahwa pengajaran membaca Al-Qur'an haruslah mendapat prioritas yang pertama diajarkan kepada anak. Lisan yang sudah mampu membaca Al-Qur'an dan menjadikannya sebagai bacaan sehari-hari secara otomatis aqidah mengalir dan tertanam kokoh dalam kalbunya. Inilah pentingnya keberadaan TPA yang berusaha menanamkan kecintaan dan kemampuan membaca Al-Qur'an kepada anak didik sedini mungkin.
Didalam membaca Al Qur’an terdapat adab-adab (akhlak) yang harus diketahui bagi yang melaksanakannya. Sehingga didalam membaca Al Qur’an tidaklah sembarangan saja.
Sehingga akhlak yang dikaji dalam skripsi ini adalah akhlak mulia pembacaan Al Qur’an yang meliputi:
1.      Membaca Al qur’an dengan khusuk serta menghayati kandungan dalam tiap ayatnya.
2.      Membaca Al Qur’an  dengan kaidah tajwid.
3.      Dalam keadaan suci pada saat membaca Al Qur’an (berwudhu terlebih dahulu).
4.      Membaca isti’adzah dan basmalah sebelum membacanya dan diakhiri oleh do’a.
Tabel. 1
Data tentang Peranan Bimbingan Orang Tua Terhadap Akhlak Anak TPA Al-Hidayah di Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara
Kabupaten Lampung Timur

No
Nama Orang Tua
Bimbingan Orang Tua
Nama Anak
Akhlak Anak
1.
Bangi
Baik
Muhammad Romdoni
Sedang
2.
Zainal Ma’arif
Sedang
Syaiful Kirom
Sedang
3.
Maliki
Baik
Muhammad Rifa’i
Kurang
4.
Indratmo
Baik
Desi Swardana
Sedang
5.
Supriyanto
Sedang
Galih Saputra
Kurang
6.
Goren
Sedang
Epi Putri Rahma
Sedang
7.
Mustaqim
Sedang
Bambang Imam Hadi
Kurang
8.
Badri
Baik
Habibah Wulan
Sedang
9.
Sugito
Sedang
Irul Setiawan
Kurang
10.
H. Supromono
Baik
Lia Wulandari
Sedang
Sumber: Observasi di Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur, diambil tanggal 27 Maret 2014.

Kriteria bimbingan orang tua di antaranya adalah:
1.      Baik        :     Selalu mengarahkan, memberikan contoh dan menasehati anaknya untuk melaksanakan adab (akhlak) membaca Al Qur’an.
2.      Sedang   :     Kadang mengarahkan, memberikan contoh dan menasehati anaknya untuk melaksanakan adab (akhlak) membaca Al Qur’an.
3.      Kurang   :     Tidak pernah selalu mengarahkan, memberikan contoh dan menasehati anaknya untuk melaksanakan adab (akhlak) membaca Al Qur’an.
Akhlak anak di antaranya:
1.      Baik          :   Membaca Al Qur’an dengan khusuk, sesuai kaidah tajwid, dalam keadaan suci, serta membaca basmalah dan berdo’a setelahnya.
2.      Sedang     :   Membaca Al Qur’an dalam keadaan suci dan membaca basmalah dan berdo’a setelahnya.
3.      Kurang  :      Tidak membaca Al Qur’an dengan khusuk, sesuai kaidah tajwid, dalam keadaan suci, serta membaca basmalah dan berdo’a setelahnya.

Atas dasar kesenjangan tersebut, maka penulis memandang perlu untuk menyusun penelitian ini dengan judul Peranan Bimbingan Orang Tua Terhadap Perubahan Akhlak Anak TPA Al-Hidayah di Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur Tahun 2014.




D.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan hasil prasurvey diatas, maka dapat diidentifikasikan masalahnya sebagai berikut :
1.     Orang tua yang tidak memberikan contoh perilaku akhlak yang baik kepada anak-anaknya didalam kehidupan sehari-hari.
2.     Orang tua yang memiliki akhlak yang baik tetapi kurang memperhatikan dan memberikan bimbingan akhlak kepada anak-anaknya disebabkan terlalu sibuknya dengan aktivitas dengan cara menitipkan anaknya kepada lembaga pendidikan agama seperti TPA memanggil guru ngaji.
3.     Anak adalah sosok yang cenderung untuk meniru sesorang dalam menentukan jati dirinya, sehingga orang tua adalah panutan utama yang akan ditiru oleh anak tersebut.
4.     Terdapat anak-anak TPA Al-Hidayah yang kurang memahami akhlak yang baik dalam membaca Al Qur’an.

E.     Batasan Masalah
Untuk menghindari kemungkinan meluasnya masalah yang akan diteliti, maka penulis membatasi permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut:
1.      Bimbingan orang tua yang akan dibahas disini adalah bimbingan orang tua terhadap perubahan akhlak anaknya yang belajar di TPA Al-Hidayah Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2014 dalam membaca Al Qur’an.
2.      Bimbingan ini berupa bimbingan orang tua kepada anaknya dalam hal membaca Al qur’an dengan khusuk serta menghayati kandungan dalam tiap ayatnya, membaca Al Qur’an  dengan kaidah tajwid, dalam keadaan suci pada saat membaca Al Qur’an (berwudhu terlebih dahulu), membaca isti’adzah dan basmalah sebelum membacanya dan diakhiri oleh do’a.
3.      Perubahan akhlak anak yang dikaji didalam skripsi ini berupa anak dapat mengerti dan melaksanakan akhlak yang baik secara berkelanjutan hingga ia dewasa nantinya.

F.     Rumusan Masalah
Dari identifikasi dan batasan masalah serta latar belakang masalah diatas, maka dapat penulis rumuskan sebagai berikut :
“Adakah peranan bimbingan orang tua terhadap perubahan akhlak anak TPA Al-Hidayah Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur ?”

G.    Hipotesis
Untuk mendasari dalam pengajuan hipotesis dalam penelitian ini, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa pengertian dari hipotesis itu sendiri berdasarkan teori dari beberapa ahli, hal ini agar diperoleh gambaran yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan hipotesis.
Hipotesis memang bukanlah suatu  keharusan dalam sebuah atau serangkaian penelitian, karena untuk penelitian-penelitian tertentu hipotesis tidak diperlukan, walaupun itu tetap bukan suatu keharusan, hal ini mungkin tergantung kepada jenis penelitian atau tergantung kepada maksud atau tujuan dari pada penelitian yang dilakukan.
Hipotesis merupakan “Jawaban sementara atau kesimpulan yang diambil untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian.”[17]
Kemudian selanjutnya Marzuki memberi batasan pengertian hipotesis, yang mengatakan “Hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar atau mungkin salah. Dia akan ditolak jika salah atau palsu, dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya.”[18]
Sedangkan Nasution berpendapat bahwa “Hipotesis adalah pernyataan tentative yang akan diajukan, yang merupakan dugaan atau tekanan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya.[19]
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis yaitu dugaan sementara dari peneliti, dan untuk mengetahui kebenarannya, harus diuji terlebih dahulu, yang penguji tersebut harus didukung oleh data dan fakta hasil penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan akan kebenarannya.
Berdasarkan definisi hipotesis di atas, penulis kemukakan hipotesis dalam Skripsi ini sebagai berikut: “Bimbingan orang tua mempunyai peranan dalam perubahan akhlak anak di TPA Al-Hidayah Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur Tahun 2014”
H.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.   Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui apakah ada peranan bimbingan orang tua terhadap perubahan akhlak anak TPA Al-Hidayah di Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur Tahun 2014.

2.   Kegunaan Penelitian
a.       Agar orang tua menyadari akan tanggung jawabnya dalam membimbing akhlak anak-anaknya sejak usia dini.
b.      Sebagai bahan masukan awal bagi penelitian lain yang berminat dalam mengkaji permasalahan yang sama atau yang releven dengan permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini.
c.       Bagi penulis sendiri dalam upaya untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan yang diperoleh selama penulis mengikuti pendidikan, dan sekaligus pula dalam memenuhi salah satu syarat guna menyelesaikan pendidikan program sarjana strata satu di Institut Agama Islam Ma’arif (IAIM) Metro Tahun Akademik 2013/2014.

I.       Metodologi Penelitian
Metode penelitian sangat bergantung pada pokok permasalahan dan sifat dari penelitian tersebut. Sedangkan untuk mendapatkan data yang obyektif bagi suatu penelitian maka setiap penelitian ilmiah harus menggunakan suatu metode penelitian tertentu. Guna memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian, diperlukan metode yang tepat. Dalam pengumpulan data untuk penelitian in, maka dikemukakan beberapa hal di bawah ini :
1.   Sifat dan Jenis Penelitian
a.   Sifat Penelitian
Sifat penelitian ini adalah penelitian Deskriptif Kualitatif yaitu “Penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil dan mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang situasi sosial”.[20]
b.   Jenis Penelitian
Jenis penelitian korelasi dengan tujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan itu. Penelitian yang penulis lakukan adalah “penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif, menurut Koentjaraningrat adalah menggambarkan secara tepat sifat-sifat sutau individu, keadaan gejala atau kelompok tertentu atau untuk menentukan frekuensi adanya hubungan tertentu antara satu dengan gejala yang lainnya.[21]
Dipilihnya jenis dan sifat penelitian ini karena penulis ingin memperoleh gambaran yang tepat mengenai Peranan orang tua dalam membimbing perubahan akhlak anak TPA Al-Hidayah di Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur Tahun 2014.

2.   Populasi dan Sampel
a.   Populasi
Populasi menurut Kartini Kartono yaitu sejumlah individu-individu dari mana sampel diambil.[22]
Dengan demikian yang menjadi populasi adalah seluruh anak yang menempuh pendidikan di TPA Al-Hidayah yang berada di Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur Tahun 2014 yang berjumlah 26 anak dengan rincian terdiri dari 16 putri dan 10 putra.
b.   Sampel
Sampel menurut Sutrisno Hadi adalah bagian dari populasi yang mencerminkan populasi atau penduduk yang akan diselidiki yang kurang dari populasi.[23]
Dari pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti. Untuk menentukan besar kecilnya sampel, maka penulis berpedoman kepada pendapat Suharsimi Arikunto yang memberikan ketetuan “subyek yang kurang dari 100 lebih baik diambil semua dna jika subyeknya besar dapat diambil 10-15 % atau 20-25 % atau lebih.”[24]
Jadi dalam penelitian ini penulis menggunakan seluruh subjek karena subjek kurang dari 100, yaitu anak yang menempuh pendidikan di TPA Al-Hidayah Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur yang secara keseluruhan berjumlah 26 orang, maka penelitiannya adalah penelitian sampel total.

3.   Metode Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian ada kegiatan yang harus ditempuh oleh peneliti, yaitu kegiatan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian. Adapun dalam memperoleh ataupun mengumpulkan data penulis menggunakan beberapa metode, yang antara lain adalah :
a.   Metode Kuisioner atau Angket
Menurut Koentjaraningrat, kuesioner adalah “suatu metode atau cara yang berupa daftar pertanyaan mengenai suatu bidang untuk memperoleh data berupa jawaban responden”.[25]
Kuesioner ada dua macam, yaitu langsung dan tak langsung seperti yang dikemukakan oleh Sutrisno Hadi berikut ini :
Disebut kuesioner langsung jika data pertanyaan dikirim langsung kepada orang yang ingin diminta pendapat meyakinkannya atau dimintai menceritakan tentang keadaan dirinya sendiri, sebaliknya jika daftar pertanyaan tersebut dikirim kepada seseorang yang diminta menceritakan orang lain maka disebut kuesioner tak langsung.[26]

Metode kuesioner ini penulis gunakan sebagai pokok dengan menggunakan kuesioner langsung dan tak langsung. Daftar pertanyaan berbentuk multiple choice dengan alternatif pilihan lebih dari 2 (dua).
Metode kuesioner ini ditujukan kepada anak TPA Al-Hidayah, penulis menggunakan kuesioner langsung karena penulis bermaksud menggali dan merekam informasi langsung mengenai akhlak anak TPA Al-Hidayah di Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur. Sedangkan kuesioner tak langsung digunakan untuk menggali dan merekam informasi tentang bimbingan orang tua terhadap anak-anak mereka.

b.   Metode Observasi
Metode observasi adalah pengamatan secara langsung tentang fenomena-fenomena obyek yang diteliti, sebagaimana yang dikemukaakn oleh Sutrisno hadi “sebagai metode ilmiah observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki.”[27]
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa observasi merupakan cara untuk mengumpulkan data dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian. Sedangkan observasi yang penulis pergunakan adalah observasi non partisipan, yaitu penulis tidak terdapat dalam unsur yang diselidiki. Hal ini sejalan dengan pendapat Sutrisno Hadi yang mengatakan “jika unsur partisipan sama sekali tidak terdapat di dalamnya, observasi itu disebut non partisipan observasi.”[28]
Metode observasi itu penulis pergunakan untuk memperoleh data tentang gambaran umum daerah penelitian, dan bentuk-bentuk bimbingan akhlak yang dilakukan orang tua Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kecamatan Lampung Timur.

c.   Metode Interview atau Wawancara
Wawancara menurut Burhan Bungin adalah “proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai”.[29]
Interview sebagai suatu proses tanya jawab lisan. Dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri suaranya, nampaknya merupakan alat pengumpul informasi yang langsung tentang beberapa jenis data sosial baik yang terpendam maupun yang memanifestasi.[30]

Berdasarkan kutipan di atas, yang dimaksud dengan metode interview adalah metode yang dapat digunakan untuk memperoleh data yang valid secara langsung meminta keterangan-keterangan dari pihak yang diwawancarai.
Metode interview penulis pergunakan sebagai metode pelengkap, yang ditujukan kepada perwakilan orang tua dari salah satu anak TPA Al-Hidayah untuk mengetahui data tentang bentuk bimbingan akhlak yang di lakukan di Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur. Sedangkan interview dengan tim pengajar di TPA Al-Hidayah yaitu Bapak Bahid Yunus untuk memperoleh data kegiatan anak TPA Al-Hidayah dalam sehari-harinya mengenai pengetahuan keagamaan mereka, dengan mengajukan pertanyaan sesuai dengan kerangka dalam sehari-hari, dengan mengajukan pertanyaan sesuai dengan kerangka pertanyaan yang dipersiapkan sebelumnya dan kepada yang diwawancarai diberikan kebebasan mengemukakan argumen atau jawabannya.
Hal ini disebut sebagai interview bebas terpimpin, yaitu kombinasi antar interview bebas dan interview terpimpin. Dalam melaksanakan interview, pewawancara hanya membawa pedoman yang hanya merumuskan garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan.

d.   Metode Dokumentasi
Dokumentasi adalah “metode yang digunakan untuk memperoleh informasi dari sumber tertulis atau dokumen-dokumen, baik berupa buku-buku, majalah,peraturan-peraturan, notulen, rapat, catatan harian, dan sebagainya”.[31]
Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data tentang sejarah berdirinya, letak geografis, struktur organisasi dan lain-lainnya mengenai TPA Al-Hidayah Desa Sumberjo Kecamatan Way Jepara Kabupaten Lampung Timur.

4.   Metode Analisis Data
Data-data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah dan dianalisa, analisa data digunakan untuk memperoleh hasil penelitian. Analisa data yang dipergunakan dalam penelitian adalah analisa kualitatif. Menurut Koentjaraningrat analisa kualitatif digunakan karena “...Data yang dikumpulkan hanya sedikit bersifat monografis atau berujud kasus-kasus sehingga tidak dapat disusun dalam struktur klasifikatoris...”[32]
Adapun langkah-langkah yang digunakan adalah :
a.       Editing yakni mengecek kembali hasil jawaban yang diajukan kepada responden sesuai dengan alternatif jawaban.
b.      Klasifikasi yakni menggabungkan hasil jawaban sesuai dengan kuesioner dimana jawaban akan dihitung dengan menggunakan rumus Chi Kuadrat yaitu :
Keterangan :
      :  Chi Kuadrat
       :  Frekuensi yang diperoleh observasi dalam sample
       :  Frekuensi yang diharapkan dalam sample pencerminan dari frekuensi yang dharapkan dalam populasi.[33]
c.       Tabulasi, yaitu memasukkan data yang telah dihitung Chi Kuadrat ke dalam sebuah tabel sehingga memudahkan dalam memberikan interpretasi atau penafsiran.
Hasil yang diperoleh dari perhitungan data kemudian dimasukkan ke dalam rumus Koefisien Kontingensi untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang didapat:
KK      =   
Keterangan :
KK         :        Koefisien Kontingensi
      :  Chi Kuadrat
N         :  Jumlah sampel penelitian


[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1990, hlm. 667
[2] Ibid, hlm. 667
[3] Ibid. hlm. 160.
[4] Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga Sebuah Perspektif Pendidika Islam, Jakarta: Rineka Cipta. 2004. hlm. 85.
[5] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2000. hlm. 4.
[6] M. Nipan Abdul Halim, Anak Shaleh Dambaan Keluarga, Yogyakarta, Mitra Pustaka, 2001, hlm 1-2
[7] Tim Redaksi Fokus Media, Undang-Undang Republik  Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang System Pendidikan Nasinal, Bandung, Fokusmedia, 2003, hlm. 11
[8] As’ad Human, Pedoman Pengelolaan Pembinaan dan Pengembangan Membaca Menulis dan Memahami Al-Qur’an. Balai Litbang LPTQ Nasional, Yogyakarta, 2001. hlm 7
[9] Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, Jamius Shaghiir, darul Kitab, Al-Arabi, 1967, hlm. 103
[10] M, Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al Qur’an, Amzah, Jakarta, 2007, hlm. 3
[11] Ahmad Amin, Etika Ilmu Akhlak, Bulan Bintang, Jakarta, 1975, hlm. 15
[12] Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008. hlm. 66-67
[13] Zuhairini dkk, Metodik khusus Pendidikan Agama, Usaha Nasional, Surabaya, 1993. hlm. 182 
[14] Muhtar, Ratih Kusuma Inten Pamastri, 60 Kiat Menjadi Remaja Milenium Panduan Berbasis Akhlakul Karimah. Jakarta: Rakasta Samasta.  2003. hlm. 35-36.
[15]  Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, Jakarta, 1984, hlm. 951
[16] As’ad Human, dkk, Op. Cit, hlm. 9
[17] Mardalis, Metode Penelitian, Bumi Aksara, Jakarta, 1989,hlm 48
[18] Marzuku, Metode Riset, BPFE – UII, Yogyakarta, 1979, hlm. 56
[19]  Nasution,  Metode Research, Jemmars, Bandung, 1982, hlm 49
[20] S. Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), Bumi Aksara, Jakarta, 2006, hlm. 24
[21] Koentjoronongrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta, 1991, hlm. 29
[22] Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Research Sosial, Alumni Bandung, 1983, hlm. 116
[23] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yayasan Penelitian Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, hlm. 220
[24] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hlm. 107
[25] Konetjaraningrat, Op.Cit, hlm. 173
[26] Sutrisno Hadi, Op. Cit., hlm. 158
[27] Ibid, hlm. 136
[28] Ibid, hlm. 142
[29] Burhan Mungin, Metodologi Penelitian Sosial,Eirlangga, University Press, Surabaya, 2001, hlm. 133
[30] Sutrisno Hadi, Op. Cit., hlm. 192
[31] S. Nasution, Op. Cit hlm. 108
[32] Koentjaraningrat, Op. Cit., hlm. 269
[33] Sutrisno Hadi, Statistika 2, Yogyakarta, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, 1986, hlm. 317